Halo semua, kali ini gue balik lagi dengan postingan baru.
Untuk kali ini, gue bikin terobosan baru. Gue ngga akan curhat soal masalah gue
ataupun ngomongin masalah jekate-jekatean. Kali ini gue akan ngepost sebuah
fanfic. Yaa tokohnya sih ngga bakal jauh beda. Ada gue dan seorang perempuan
yang gue kagumi. Buat kalian yg belum tau apa itu fanfic, disini gue bakal
jelasin dikit. Fanfic itu singkatan dari Fan Fiction atau istilahnya Fiksi
Penggemar atau Cerita Khayalan Penggemar. Yaa karna namanya cerita khayalan,
dalam fanfic ini sama sekali ngga ada presentase kebenarannya. Ini semua cuma
khayalan gue aja. So buat kalian, check this out J
!
Kado Indah Pada Malam
Ulang Tahun
Hari itu setelah selesai jam kuliah, teman wanita ku bernama
Rona mengajakku pergi jalan-jalan berdua.
“Jadi
pergi kan, Dar?” Tanya Rona padaku yg masih sibuk merapikan tas.
“Jadi
dong!” sahutku dengan semangat.
“Yuk
berangkat!” ajak Rona sembari menarik tanganku untuk berdiri.
Aku hanya terdiam sembari menahan gemetar karna rasa gugup
yang amat sangat. Aku bergegas beranjak dari tempat dudukku dan segera berjalan
menuju parkir Kampus untuk mengambil motorku. Setelah sampai tempat parkir,
datang seorang laki-laki menggunakan Motor besar nya menghampiriku dan Rona.
“Hai,
Ron. Mau aku anter pulang ngga?” Tanya pria itu pada Rona.
“Ngga
usah, makasih. Aku mau pergi sama Dari.” Jawab Rona agak sinis.
“Mau
pergi kemana? Yaudah biar aku anter” Pria itu terus memaksa Rona.
“Ngga usah,
makasih!!” bentak Rona sembari mengajakku pergi meninggalakan pria itu.
Aku segera mengambil motor dan mengajak Rona pergi. Pria
yang mengajak Rona pergi tadi adalah anak Kampus Teknik. Dia sangat terkenal di
lingkungan Kampus karena Orang Tua nya yang bekerja sebagai Menteri di Lembaga
Pemerintahan. Di perjalanan dia hanya terdiam tanpa berbicara sepatah kata pun.
Mungkin dia masih kesal dengan pria tadi. Aku sengaja tidak mengajaknya bicara
karna takut dia akan marah padaku. Setelah sama-sama bungkam hampir separuh
perjalanan, aku memberanikan diri bertanya pada Rona.
“Ki…Kita
mau kemana, Ron? “tanyaku dengan nada sedikit gugup.
“Kita
ke Toko buku yaa, Dar. Aku mau liat-liat komik.” jawab Ron
“Ohh, oke Ron.” Jawabku mengakhiri perbincangan.
“Ohh, oke Ron.” Jawabku mengakhiri perbincangan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, aku dan
Rona tiba disebuah toko buku. Rona langsung berjalan ke bagian komik. Dia
mengambil sebuah komik edisi terbaru.
“Kamu
suka Detective Conan juga, Ron?” tanyaku pada Rona
“Hah??
Iyaa, Dar. Aku suka banget malah. Dulu sempet koleksi, tapi udah dibuang sama
mama.”
“Loh?? Kok dibuang Ron?”
“Loh?? Kok dibuang Ron?”
“Dulu
waktu SMP, aku sering banget baca komik sampe-sampe lupa waktu buat belajar.
Dan nilai
aku dulu sempat turun. Makanya mama ngebuang semua koleksi komik aku. “
“Wahh,
kamu ternyata penggemar berat komik yaa?”
“Iya,
Dar.. Apalagi Detective Conan. Kadang dalam sehari aja, aku bisa selesaiin baca
15 edisi.”
“Hah??
15 edisi??” aku bertanya kaget.
“Iya,
Dar.. Hehe.” Jawab Rona sambil menebar senyumnya yang manis.
“Trus,
kamu ngga ada niat mau koleksi lagi?”
“Ada
sih, tapi kalo aku koleksi dari awal lagi bakalan keluar biaya besar, Dar.
Sedangan keperluanku masih banyak lagi.
“jawab Rona dengan nada sedikit memelas.
“Ohh,
gitu yaa? Hmm, abis ini kita makan yuk!” tanyaku mengakhiri pertanyaan.
“Yuk.
Kebetulan aku juga udah laper.”
Setelah menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk
melihat-lihat di toko buku, aku dan Rona segera mencari tempat makan.
“Kita
makan disini aja gimana, Ron?” tanyaku pada Rona.
“Boleh
boleh.”
“Yaudah,
kamu tunggu disini sebentar ya. Aku pesen makanannya dulu.”
“Oke!”
jawab Rona dengan senyumnya yang sangat indah.
Aku segera memesan makanan untuk kami berdua. Setelah selesai memesan makanan, aku segera menghampiri Rona yang sedang sibuk dengan Handphone nya.
“Hayoo!
Lagi bales BBM dari pacar kamu ya?” tanyaku pada Rona dengan nada bercanda.
“Ihh,
ngga kok. Aku ngga punya pacar, Dar. Ini temen lama ku.”
“Ohh, temen lama kamu toh?”
“Iya,
Dar. Ini temen lama ku yang BBM nama nya Yamada. Dia kerja di Jepang. Dan
katanya dua hari lagi mau ke Jakarta."
"Ohh
gitu yaa? Dia lagi liburan?”
“Katanya
sih dia udah ngga betah disana, makanya mau balik ke Jakarta.”
“Ohh,
okeoke. Hmm, makan dulu yuk, Ron.”
“Yuk!”
Rona menutup perbincangan kami.
Setelah sama-sama menyelesaikan santap siang, aku kembali
membuka perbincangan dengan Rona.
“Ron,
aku mau cerita sesuatu sama kamu.”
“Hah?
Cerita soal apa?”
“Aku
lagi naksir sama cewe di Kampus, Ron.”
“Hah?
Serius kamu, Dar? Hahahahaha.” Rona tertawa lepas.
“Kok
kamu malah ngetawain aku? Yaudah deh ngga jadi.”
Aku hampir menyerah ketika Rona menertawaiku. Dia tidak tahu
jika wanita yang sedang ku taksir adalah dia.
“Yahh,
jangan marah dong. Yaudah yuk cerita.” Rona mencoba menghiburku.
“Cerita
apa? Aku kan tadi bilang cuma mau ngasih tau sesuatu ke kamu.”
“Yaa
sesuatunya itu apa?” Rona bertanya kembali padaku.
“Yaa
itu tadi. Aku lagi naksir cewe di Kampus.”
“Serius?
Aku kira kamu becanda. Siapa cewe nya? Kasih tau aku dong!”
“Ngga
usah deh, Ron. Aku masih malu.”
“Ahh,
kamu mah ngga seru. Masa ngga mau ngasih tau aku.” Rona memelas.
“Nanti
kalo waktunya udah tepat, kamu pasti orang pertama yang aku kasih tau.”
“Beneran?
Janji yaa kalo aku orang pertama?”
“Pasti!
Kamu pasti orang pertama yang aku kasih tau.”
“Oke
deh, aku tunggu waktu yang tepat itu.”
“Siap
Kapten!! Eh, udah sore Ron. Pulang yuk?”
“Yuk
yuk! Aku juga mau ngerjain tugas kuliah yg belum selesai nih”
“Yaudah
yuk!” Aku menutup perbincangan antara kami.
Aku dan Rona pun segera meninggalkan tempat makan itu untuk
segera pulang. Karena rumah ku dan rumah Rona searah, kami selau pulang
bersama. Satu hal yang masih membuatku bertanya-tanya, mengapa wanita incaran
para laki-laki di Kampus seperti dia, mau pulang denganku menggunakan motor ku
yang tergolong motor butut. Padahal, banyak laki-laki di Kampus yang ingin
mengantarnya pulang dengan motor gede, ataupun dengan mobil pribadi. Entahlah,
Rona memberikan ku sedikit harapan.
Di perjalanan, aku dan Rona sama-sama terdiam. Aku tidak
enak jika harus membuka perbincangan lagi. Aku takut mengganggu nya. Dia
kelihatannya lelah sekali. Setelah melalui perjalanan sekitar 45 menit, aku
tiba dirumah Rona. Rona pun segera turun dari motorku.
“Makasih
ya udah mau nemenin aku, Dar.”
“Hah?
Iyaa, Ron. Sama-sama.”
“Oiya,
lusa aku ulang tahun. Kamu dateng ya ke acara ulang tahun ku.”
“Hah??
Kamu lusa ulang tahun???” Aku bertanya dengan sedikit terkejut.
Maklum, selama kurang lebih 3 bulan kami berteman, aku belum
pernah bertanya tentang hari ulang tahunnya.
“Iya,
aku lusa ulang tahun, Dar. Dateng yaa! Kalo kamu ngga dateng, aku marah.” Kata Rona dengan nada sedikit manja.
“Iya!
Iya! Aku pasti dateng kok. Lusa kan?” aku bertanya untuk memastikan.
“Iya,
lusa Dar. Yaudah, pokoknya dateng ya.”
“Iya,
aku dateng kok.”
“Yaudah,
aku masuk dulu ya. Makasih Dari, kamu hati-hati dijalan ya.”
“Kembali
kasih, Rona. Aku pulang dulu ya. Dadah!”
“Dadah!”
Rona melambaikan tangannya kearahku sembari tersenyum.
Aku pun segera memacu motorku dengan cepat dan bergegas
pulang kerumah. Sepanjang perjalanan, aku hanya memikirkan satu hal. “Apakah
aku harus menyatakan perasaan cinta ku padanya saat hari ulang tahunnya nanti?”
Aku berbicara dalam hati. Hatiku bimbang, aku masih ragu. Aku pun takut jika
Rona tida menerima cinta ku. Aku pun takut jikalau nanti pertemanan kami akan
renggang karena aku menyatakan perasaan cinta kepadanya. “Tuhan, tolong aku.
Apa yang harus kulakukan? Jika aku tidak menyatakan perasaan ini, dia tidak
akan pernah tahu perasaanku yang sebenarnya. Tapi jika aku menyatakan
perasaanku, aku takut dia akan menjaga jarak dengan hubungan pertemanan kami.”
Aku benar-benar bingung saat itu. Aku memutuskan untuk melupakannya sejenak dan
kembali memikirkannya setiba ku dirumah nanti.
Setelah berkendara kurang lebih 20 menit dari rumah Rona,
aku tiba dirumah. Dirumah aku terus
meikirkan hal membingungkan tadi sampai-sampai aku pun tertidur.
Keesokan harinya ketika bangun tidur, aku segera mandi dan
langsung pergi mencari kado untuk ulang tahun Rona besok. Aku sempat bingung
memilih kado, sampai akhirnya aku teringat sesuatu. Rona sangat menyukai komik
Detective Conan. Aku pun bergegas ke toko buku untuk membelikan Rona komik yang
dia suka. Saat itu sedang ada promo di toko buku tersebut. Komik Detective
Conan kesukaan Rona dijual keseluruhan dari edisi 1-50. Aku pun membelikannya
seluruh komik itu. Mungkin saja dia akan suka hadiah pemberian dari ku. Dan
setelah mendapatkan kado untuk Rona, aku segera pulang kerumah.
Tanpa terasa, jam di handphone ku sudah menunjukkan jam
23.58. Aku segera mengetik sebuah pesan singkat untuk mengucapkan selamat ulang
tahun kepada Rona.
“Selamat ulangtahun yaa, Ron.
Semoga apa yang kamu inginkan semua nya terkabul. Sukses buat kuliahnya juga. Wish you all the best
lah pokoknya. God bless you, Ron J
.” kurang lebih begitu isi pesan singkat ku.
Setelah selesai menulis pesan singkat itu, aku segera
mengirim pesan itu kepada Rona. Dan kebetulan jam sudah menunjukkan pukul
00.00. Setelah menunggu 30 menit, Rona tidak kunjung membalas pesan singkatku.
Aku pun tertidur seiring mataku yang mulai mengantuk menunggu pesan balasan
dari Rona.
Pagi harinya, alangkah terkejutnya aku ketika melihat ada
pesan di handphone ku. Dan pesan itu dari Rona.
“Makasih
banyak buat doa nya ya, Dar. Kamu temenku yang pertama ngucapin loh J .” isi pesan singkat Rona di handphone ku saat itu.
Seketika senyum ku paling sumringah terpancar dari bibirku.
Rona benar-benar membuatku berharap terlalu banyak. Aku pun kembali memikirkan
tentang menyatakan perasaanku padanya. Setelah berpikir dengan matang, aku
mengurungkan niat ku untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Aku lebih ingin
menjaga hubungan pertemanan kami.
Setelah hampir menghabiskan setengah hari di rumah, aku pun
bersiap menuju pesta Ulang tahun Rona. Aku memilih baju yang sesuai, melakukan
mix match dan mengatur gaya rambut ku agar terlihat “sedikit” keren. Setelah
kurang lebih 1 jam, aku pun menemukan pakaian yang cocok. Aku bergegas mandi,
dan setelah itu aku langsung meninggalkan rumah untuk pergi ke ruma Rona. Tak
lupa aku membawa kado ulang tahun untuk Rona.
Setibanya dirumah Rona, aku segera masuk dan segera menuju
halaman belakang tempat dimana Rona dan yang lainnya sudah berkumpul. Hari itu
Rona seperti Cinderella. Dia menggunakan gaun putih dengan sepatu seperti
sepatu kaca yang aku tidak tahu apa namanya. Wajahnya benar-benar me-Rona,
sesuai dengan namanya Rona Ariesta Anggreani. Aku pun segera menghampiri Rona
yang benar-benar anggun malam itu.
“Selamat
ulang tahun yaa, Ron.” Ucapku pada Rona sembari memberi kado yang ku bawa.”
“Wahh,
makasih banyak yaa, Dar. Aku kira kamu ngga dateng.”
“Kan
aku udah janji sama kamu kalo aku bakalan dateng.”
“Hehe,
iya iya. Makasih juga kado nya ya, Dar.” Ucap Rona dengan senyumnya.
“Kembali
kasih, Ron. Semoga kamu suka, ya.”
Setelah lama berbincang, acara pun dimulai. Kami semua
bernyanyi dan berdoa bersama untuk Rona. Setelah itu, Rona pun memotong kue
ulang tahun nya. Dia memberikan potongan pertama untuk Ibu nya. Setelah semua
larut dalam hangatnya suasana malam itu, tiba-tiba seorang laki-laki dengan
wajah Asia menghampiri Rona. Ya, dia Yamada. Dia adalah teman kecil Rona yang
pernah Rona ceritakan padaku waktu itu. Yamada memberikan hadiah berupa cincin
emas kepada Rona didepan banyak orang. Sembari memberikan cincin itu, Yamada
pun mengutarakan perasaan cinta nya kepada Rona. Dan Rona pun menerima cinta
Yamada. Hati ku berkecamuk, mata ku
berkaca-kaca melihat kejadian itu. Rona yang aku cinta, kini sudah menjadi
milik orang lain. Ada perasaan sesal yang amat mendalam dihati ku. Jika saja
aku lebih dulu mengungkapkan perasaan cinta ku kepada Rona, setidaknya aku tahu
perasaanya kepadaku. Meskipun nantinya hubungan pertemanan kami akan sedikit
renggang, setidaknya hati ku lega karna sudah menyatakan perasaan cinta ku
kepada orang yang aku cinta. Dengan menyimpan perasaan cinta ku dalam-dalam,
aku hanya melukai hatiku secara perlahan.
Rona terlihat sangat bahagia bersama Yamada. Ya, mungkin itu
adalah kado terindah pada malam ulang tahunnya. Hati ku pun semakin luka
melihat mereka. Aku meninggalkan tempat pesta dan segera pulang kerumah.
Dirumah aku hanya menyalahkan diriku sendiri. Mengapa aku tidak mengungkapkan
perasaan cinta ku kepada Rona? Aku sangat menyesal. Aku terus membodoh-bodohi
diriku sendiri dan meratapi kenyataan sampai akhirnya aku tertidur.
Satu pelajaran yang aku terima dari kejadian ini. Jika
kita mempunyai perasaan cinta kepada orang lain yang sudah kita kenal dekat,
segera lah nyatakan perasaan itu. Meskipun jawaban yang diterima akan
menyakitkan, setidaknya hati kita sudah lega karna sudah menyatakan perasaan
kepada orang yang kita cinta. Apapun yang akan terjadi nantinya, nyatakanlah
perasaan itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar